Senin, 10 Oktober 2011

Tak seperti yang dibayangkan

Hidup di kampung orang ternyata nggak gampang. Waktu baru tiba di kostan, hal pertama yang aku rasakan adalah betapa GERAHnya kota ini. Apalagi waktu itu aku belum membeli kipas angin. Rencananya sih sorenya baru mau beli. Untung ada blower  yang membuat suhu kamar ini agak turun walaupun hanya nol koma nol nol nol sekian derajat.
Sialnya, sorenya teman satu kost aku yang sama-sama dari Kotabaru mendadak pergi ke Bogor. Jadilah aku kelimpungan, gimana mau beli kipas angin, nggak ada yang nemenin. Jadilah aku menelepon ibuku sambil menangis tersedu-sedu, menanyakan bagaimana caranya aku bisa belanja keperluan untuk kamar kostku yang baru.

Tapi untungnya masalah teratasi ketika ibuku menelepon mbak yang jaga kost ini dan memintanya untuk mencarikan tukang ojek untuk mengantarkanku membeli keperluan-keperluan itu. Yah, satu masalah terlewati. Pelan-pelan kurapihkan kamar kostku, ku sapu, ku pel dengan cairan pembersih lantai beraroma apel, dan menggantungkan pengharum ruangan aroma jeruk di kipas anginku. Kurasakan kamarku mulai nyaman, aku makan malam itu dengan hati yang agak ringan. Namun tetap saja, setelah makan air mataku bercucuran kembali, membayangkan betapa bahagianya aku malam minggu itu bila aku bisa bersama keluargaku. Meskipun hanya di rumah, tidak pergi kemana-mana atau membeli makanan dan makan bersama di rumah, namun aku bahagia. Aku bisa berbagi banyak hal dengan mereka, bermain bersama adikku yang lucu, berbaring di pangkuan ibu, dan bermain scrabble dengan bapak. Aku merindukan hal itu. Ada sedikit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku memilih penerbangan pada hari sabtu itu, padahal kan bisa saja aku berangkat hari senin atau selasa, agar aku bisa lebih lama bersama mereka.

Satu bulan pertama adalah fase paling berat. Seringkali bila aku belum memutuskan akan makan apa di hari itu, aku membayangkan, jika aku berada di rumah, aku mencium aroma masakan ibu dan ikut membantu beliau memasak, jika laparpun aku tinggal mengambil apa yang aku mau di lemari makanan, tidak harus berjalan kaki puluhan meter untuk membeli lauk. Sering juga bila aku melihat anak balita yang sedang bermain dengan ibunya, aku teringat dengan adikku. Aku sangat merindukan mereka. Aku ingin pulang, ingin kembali ke rumah. Atau bila aku tetap di sini, mereka yang harus menyusulku ke sini.

Tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang. Ini hanya pijakan awal, yang kadang memang ada guncangan-guncangan kecilnya. Tapi ini hanya akan menjadi bagian kecil dari perjalanan hidupku. Aku pun mulai bangkit, mencoba untuk membuat diriku nyaman di sini. Aku tata kamar kost ku yang kecil sedemikian rupa, meskipun tidak semua benda bisa tersusun rapi, karena minimnya ruangan. Aku bersihkan kamar kostku secara rutin, ku sapu kemudian ku pel dengan cairan pembersih lantai aroma apel. Aku mulai membeli bahan-bahan makanan di supermarket dekat kost, yang sekiranya tahan lama dan bisa disimpan dalam kulkas yang tersedia di sini. Aku menjelajah tempat-tempat sekitar kost ku, mulai dari pasar krempyeng sampai mal besar. Aku menikmati hobiku yang memang suka jalan-jalan. Saat kelelahan aku nongkrong di salah satu kedai makanan, memesan minuman ringan dan duduk-duduk di sana sambil BBMan atau memantau timeline Twitter. Ketika pulang, badan sudah letih, aku langsung tidur. Itu saja yang kulakukan di hari-hari pertamaku di sini.

Saat OSPEK mulai, aku sudah tidak segalau saat pertama kali tiba. Karena mulai sibuk dan kelelahan karena kegiatan OSPEK yang seabrek, aku sudah tidak terlalu sering ingat rumah. Apalagi ibu dan bapak secara rutin bergantian meneleponku untuk menanyakan keadaanku, jadi aku pun merasa diperhatikan seperti saat masih di rumah.

Saat masa perkuliahan tiba, hari-hariku mulai padat dan menyita banyak waktu luangku. Aku jadi tambah jarang berkomunikasi dengan orang tuaku. Yang tadinya ditelepon 3 kali dalam sehari, sekarang hanya 1 kali saat aku menjelang tidur. Aku malah senang dengan kondisi seperti ini, jadinya aku tidak terlalu sering ingat rumah, galau ingin pulang, dan hal-hal menye-menye lainnya yang membuatku meneteskan air mata.

Tapi memang ada kalanya, saat aku mencium aroma parfum tertentu, mendengarkan musik, atau melihat benda tertentu, aku teringat dengan rumah. Rumah yang sebenarnya bukan milik kami, tetapi milik negara. Rumah yang sudah sangat tua, sampai-sampai ada beberapa orang yang mengira rumah itu tak berpenghuni, meskipun terletak di tepi jalan raya utama di kotaku, karena kesannya yang spooky. Padahal, rumah itu bisa memberikan kehangatan, kenyamanan, dan ketentraman yang tidak aku temukan di tempat lain. Kondisinya memang tak begitu baik, namun aku betah di rumah itu. Aku betah meskipun 2 hari tidak keluar rumah. Aku tahu sebenarnya bukan rumah itu yang memberikan kehangatan, namun cinta yang selalu dipancarkan oleh ibu dan bapak. Cinta itu yang selalu terasa saat aku memasuki rumah ini. Saat aku keluar pun, aku masih bisa merasakan cinta itu mengalir dalam nadiku. Bahkan ketika aku merantau seperti ini pun, aku masih bisa merasakannya. Meskipun tak tercium aroma masakan ibu, tak ada suara tangisan dan celotehan adik kecilku, tak ada suara berat bapak yang menyanyikan gendhing Jawa,  tidak ada godaan nakal dari adikku yang paling tua. Tapi aku merasakan kekuatan cinta, di setiap langkahku di sini.

Saat ini aku hanya bisa melakukan yang terbaik dan berdoa. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, di mana saat aku kembali ke rumah, aku bisa dengan bangganya menunjukkan gelar sarjana di belakang namaku, dengan embel-embel IPK yang bagus. Di mana saat aku pulang ke rumah, ibu dan bapak bisa dengan bangga bercerita dengan tetangga tentang prestasiku. Di mana suatu hari nanti, akan kubawa 2 tiket pesawat untuk perjalanan haji kedua orang tuaku... :')



pernah dipublikasikan di : http://www.facebook.com/#!/notes/fauziah-listyo-ayunani/tak-seperti-yang-dibayangkan/259288444115164

Tidak ada komentar:

Posting Komentar